Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Kamu Benci Dengan Pekerjaanmu


Ada 3 tipe orang saat bekerja. 1. Adalah orang yang suka dengan pekerjaannya, contohnya adalah orang yang bekerja di bidang kesukaannya, atau berkaitan dengan hobinya, namun ada juga yang, 2. Netral, artinya dia tidak benci namun tidak juga benci pekerjaannya.
Ilustrasi orang yang benci dengan pekerjaannya
Orang yang ada di poin nomor 2 ini menganggap pekerjaan sebagai kebutuhan, jadi mau tidak mau harus dikerjakan. Dan yang terakhir adalah yang membenci pekerjaannya. Entah karena memang pekerjaannya tidak sesuai dengan keahlian seseorang, atau karena faktor lingkungan, seperti karena rekan kerja yang tidak mengasyikkan, bos yang terlalu memaksa karyawan dan lain-lain.

Artikel ini khusus ditujukan untuk kamu orang yang ada di poin ketiga, orang yang setiap berangkat kerja mengeluh, “aku benci pekerjaanku” atau “aku harap meteor menghantam kantor hari ini”.

Apa yang harus dilakukan ketika kamu benci pekerjaanmu.

Ada banyak hal yang kamu bisa lakukan jika kamu membenci pekerjaanmu, namun garis besarnya hanyalah dua, satu adalah menahan siksaan yang kamu lalu setiap hari atau dua menyerah dan segera membuat surat resign. Namun ada beberapa hal yang perlu kamu ingat apa pun pilihan yang kamu pertimbangkan saat ini.

Jangan umbar pikiranmu ini

Ada sebuah konsep di mana saat kamu mengatakan sesuatu, maka hal itu akan jadi kenyataan. Saat seperti seseorang mengatakan jatuh cinta pada seorang wanita walaupun hatinya tidak merasa demikian, namun jika setiap hari orang ini mengatakan “aku cinta padanya,” maka suatu saat dia akan benar-benar jatuh cinta pada perempuan tersebut. Contoh diatas bisa makin nyata jika dari awal kamu memang begitu, seperti kamu tiap hari memikirkan kalau “aku benci pekerjaanku” dan kemudian kamu mengatakan hal itu dengan keras, ini memiliki efek untuk memperkuat perasaan tersebut.

Hal ini akan jadi masalah karena keluhan kamu akan membuat pekerjaan kamu yang dari awal sudah kamu benci menjadi siksaan yang sedikit demi sedikit mengikis jiwamu.

Belum lagi efek yang akan terjadi jika pikiranmu ini didengar oleh rekan kerjamu atau bosmu. Kamu bisa dipecat.

Kamu yang membenci pekerjaanmu mugkin menganggap kalau dipecat itu adalah hal yang baik, namun kamu juga perlu ingat, dipecat akan jadi hadiah kalau kamu sudah mengamankan pekerjaan lain. Jadi jangan umbar pikiranmu, terutama di media sosial.

Ketahuilah bukan cuman kamu yang merasakannya

Ingatlah, kamu tidak bisa membaca pikiran seseorang, jadi saat kamu memikirkan “aku benci pekerjaanku” mungkin rekan kerjamu yang tiap hari tersenyum padamu saat datang juga merasakan hal yang sama. Menyadari hal ini sangat penting, karena saat menyadari hal ini, kamu akan sadar kalau tidak sendirian. Disiksa sendirian itu pedih, namun jika kamu tahu ada orang yang sama tersiksanya dengan dirimu, walaupun terdengar jahat, memang lebih baik daripada disiksa sendirian.

Setidaknya kamu harus bersyukur karena kamu sadar kalau kamu benci pekerjaanmu, ini adalah salah satu tanda kalau kamu harus mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaanmu. Dan dari sini kamu bisa menyusun rencana apa yang akan kamu lakukan ke depannya.

Jangan tiba-tiba keluar

Saat kamu benci pekerjaanmu, tentu saja hal pertama yang terpikirkan adalah untuk segera keluar dari siksaan ini, namun kamu tidak bisa langsung keluar, setidaknya pikirkanlah matang-matang dulu untuk membuat pekerjaan yang kamu benci jadi terasa lebih menyenangkan.

Bayangkan kalau ternyata kamu yang sangat membenci pekerjaanmu adalah aset yang penting bagi perusahaan, dan saat kamu memutuskan untuk keluar kerja, bosmu memintamu untuk tetap tinggal, walaupun hal ini kemungkinan tidak akan menghentikanmu, ini akan tetap membuatmu kerepotan.

Karena itu, sebelum kamu keluar, kamu harus memastikan dulu apa yang membuat kamu benci pekerjaanmu, apakah itu memang pekerjaannya sendiri, atau sebenarnya adalah lingkungan tempat kamu bekerja. Cari cara untuk membuat pekerjaanmu jadi tidak menyiksa, seperti kalau memang kamu benci pekerjaanmu karena rekan kerjamu, maka mintalah untuk dipindahkan. Keluar kerja haruslah jadi pilihan terakhirmu, dan saat kamu merasa tidak bisa ditolong lagi, maka segeralah keluar.

Siap-siap mencari pekerjaan

Jika di poin di atas kamu merasa kalau keluar adalah satu-satunya pilihanmu, kamu harus keluar, namun tidak segera. Sebelum keluar, kamu harus minimal tahu ke mana kamu akan melamar kerja selanjutnya, atau maksimal kamu sudah mengamankan pekerjaan baru.

Kamu perlu tahu kalau mencari pekerjaan saat masih bekerja lebih mudah dibandingkan mencari kerja saat pengangguran. Kamu masih memiliki gaji, jadi tekanan untuk hidup sehari-hari juga jauh lebih ringan.

Cari lowongan kerja lain

Setelah kamu mencari perusahaan mana yang lebih baik bagimu, atau mungkin mendapatkan rekomendasi dari temanmu, mulailah melamar pekerjaan, namun secara hati-hati dan sembunyi-sembunyi. Kamu tidak mau hal ini diketahui oleh bosmu, bisa-bisa kamu dipecat.

Jika memungkinkan, carilah lowongan yang bisa dikirim melalui email, website perusahaan, dan lain-lain. Ini akan mempermudah prosesnya.

Namun perlu kamu ingat, proses ini kemungkinan besar tidak akan mudah dan memerlukan waktu yang agak lama, jadi bersabarlah.

Hati-hati dengan apa yang kamu katakan, dan pada siapa

Kamu sudah menyelesaikan tahap di atas, dan dipanggil untuk melakukan interview. Saat ini kamu merasa ingin berteriak dan mengumumkan pada dunia bahwa sebentar lagi kamu akan meninggalkan tempat terkutuk yang kamu sebut dengan kantormu, namun tahan dulu. Kamu masih belum diterima, jadi pikirkanlah kemungkinan terburuk. Saat interview, jika bisa kamu juga jangan mengatakan kalau kamu membenci pekerjaanmu pada perusahaan barumu, kamu tidak tahu apa yang diketahui oleh calon perusahaan barumu, bisa saja dia tahu kalau kamu masih bekerja di perusahaan tertentu, jadi bersikaplah profesional.

Mengundurkan diri

Setelah semuanya selesai dan kamu benar-benar akan keluar kerja, maka segeralah membuat surat pengunduran diri, namun karena beban yang ada di hatimu sekarang sudah hilang dan kamu mulai bisa tersenyum, maka mengundurkan dirilah dengan elegan.

Kabarilah kantormu minimal dua minggu sebelumnya kamu keluar, bantu masa transisi, dan buatlah semacam tutorial agar penggantimu bisa langsung bekerja dengan mulus. Bersikaplah baik, karena walaupun kamu benci pada pekerjaanmu, pekerjaanmu bisa membantumu untuk hidup, menjadi referensi dan track record untuk pekerjaan barumu, dan suatu hari nanti bahkan mungkin akan jadi klien yang bisa membuat kamu naik jabatan.